Sabtu, 18 Oktober 2008

Curhat, boleng dong

Rekan PIM410, usai PIM410 saya lapor sama bos kalau saya telah selesai Diklatpim dan saya laporkan juga tentang materi yang di dapat di sana. Bos bilang, itu hanya teori dan tentang penerapannya tidak segampang teori. Tapi kamu harus berusaha untuk menunjukan kepada yang lain, lanjutnya.

Namun sampai sekarang ternyata masih belum bisa. Yah tentu saja karena memang sistem yang ada sangat kuat dan tak mungkin bisa dirubah dalam waktu yang singkat. Itulah yang terjadi pada saya. Mungkin ini terjadi juga pada rekan-rekan. Tapi, kita tetap harus berusaha, minimal bisa menunjukan kalau kita bisa lebih baik dari masa lalu.

Rekan PIM410, mohon maaf saya juga masih belum bisa mengisi dengan artikel yang lain. Selain sibuk dengan tugas, juga saya sedang membuat website almamater, karena saya ditunuk sebagai administrator. Nanti jika sudah selesai, saya akan meneruskan dengan artikel yang lain, agar reka-rekan bisa mengingat kembali kenangan indah di Sukamandi.

Sekarang saya ingin menyapa beberapa rekan yang telah memjadi kenangan. Tentu saja rekan yang lainnya, yang memang telah menjadi kenangan dalam hidup saya. Dan kenangan itu ternyata sulit untuk dilupakan.

Halo Bu Ati. Saya punya kenangan dengannya. Karena saya pernah membawa tasnya yang cukup berat dari asrama ke garasi. Dia bilang isinya buku. Rupanya buku-buku itu akan dipelajari lagi di rumah, katanya. Tapi apa yang saya lakukan itu ichlas lho atau bukan kepaksa. Percayalah Bu Ati.

Halo, Ba Ipung. Saya rindu dengan pijitannya. Ternyata pijitan itu manjur sekali. Dalam beberapa saat sakit saya hilang dan paginya bisa segar kembali. Dia kemarin bilang, mau ngisi. Saya senang sekali. Mudah-mudahan, niat itu terlaksana, hingga tercipta sebuah tulisan karyanya. Ba Ipung, kita pasti bisa.

Halo, Bu Harumi. Saya punya banyak kenangan manis dengannya. Sering ngobrol dengannya. Pernah jalan ke Cikampek cari ATM dan cari info tentang tiket kereta. Pernah juga karoke, duet, menyanyikan lagu Dewi Yul dan Broeri. Tapi semua itu tinggal kenangan. Karena kita telah kembali ke habitatnya. Maafkan kesalahan saya ya. Itu hanya sebuah perjalanan hidup.

Udah dulu deh. Nanti aku sambung lagi dengan teman-teman lain. Maafkan saya, belum bisa menyebutkan satu demi satu, meski rekan semua telah membuat kenangan dalam hidup saya. Terus terang saja, kalau saya sudah menulis seperti ini, saya merasa seperti dekat dengan kalian. Itulah cara saya agar tetap dekat dengan kalian.

By Usni Arie

Senin, 13 Oktober 2008

Sudah Cukupkah Pengakuan Keislaman Kita?


” Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiyaa : 21:107)

Umumnya kita sudah pernah membaca ayat suci di atas, namun pertanyaannya adalah apakah kita sebagai seorang yang mengaku muslim sudah menjadi rahmat bagi sekeliling kita?

Bila kita melihat sejarah awal perkembangan Islam di Kota Mekah dan Madinah. Rasulullah telah melakukan suatu perubahan peradaban di tempat tersebut menjadi jauh lebih baik. Suatu peradaban yang sebelumnya tanpa aturan yang membuat kesengsaraan di sebagian pihak. Dimana seorang perempuan yang sebelumnya tidak dihargai sama sekali sehingga setiap anak perempuan sudah umum di kubur hidup hudup bahkan seorang ibu dijadikan warisan untuk dinikahi oleh anak tirinya, Seorang yang berkuasa menindas orang yang lemah serta banyak lagi penindasan lainnya di tanah arab tersebut.

Namun setelah Rasulullah menyampaikan kebenaran Islam, maka Hak azasi manusia mulai ditegakkan, seorang perempuan menjadi lebih mulia dari sebelumnya, seorang penguasa menjadi pelindung bagi yang lemah, terbentuknya persaudaraan yang saling tolong menolong serta saling percaya diantara mereka sehingga tidak ada lagi kekhawatiran dari kejahatan tetangganya. Mereka semua meresapi rasa takut bila mendolimi yang lain karena mereka yakin akan pembalasan yang akan diterima di kehidupan abadi nanti. Mereka berbuat semata-mata hanya untuk mencari keridoan Sang Maha Pencipta. Disamping itu perkembangan ilmu pengetahuan maju dengan pesat di atas peradaban saat itu.

Begitu pula pada awal perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di pulau jawa. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) sebagai salah seorang wali songo yang pertama kali datang ke daerah tanah nusantara telah membawa perubahan yang cukup signifikan. Beliau yang pertama kali memperkenalkan sistem pengairan sehingga daerah di sekitarnya menjadi subur. Beliau pula telah melakukan pengobatan bagi orang yang sakit, memerangi para perampok yang ada di daerah tersebut serta memperkenalkan sistem pendidikan melalui pesantrennya. Sunan Gresik telah membawa suatu peradaban yang berada di atas peradaban saat itu. Sehingga dengan perjuangan beliau dan murid-muridnya masyarakat yang sebelumnya tertindas menjadi masyarakat yang makmur.

Hal ini tiada lain karena orang yang menyebarkan Islam saat itu sesuai dengan ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi masyarakat sekitarnya. Namun bila seseorang yang mengaku islam malah membuat keresahan tetangganya? membuat kerusakan di sekitarnya? membawa suatu perilaku dan pengetahuan yang berada dibawah peradaban saat ini? dapatkah dia disebut sebagai islam yang telah kaffah (sempurna)?

Untuk itu kita perlu intropeksi diri atas pengakuan keislaman kita. Karena seorang muslim yang sejati adalah seorang yang membuat tentram tetangganya, seorang yang membuat sejahtera sekitarnya serta seorang yang menyampaikan pengetahuan yang berada di atas peradaban saat ini.

”Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan" (QS. Ali Imron: 195)

Tapi carilah dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kehidupan akhirat, dan janganlah lupa bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah engkau mencari (kesempatan untuk) berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (QS Al-Qashash:77)


Salam, Uung Gantira

Kamis, 09 Oktober 2008

Sebuah Cita-cita Agung yang Cocok bagi Semua Profesi


Sebagian besar manusia mempunyai cita-cita yang tinggi dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Ada yang bercita-cita menjadi seorang PNS, dokter, menteri, pengusaha bahkan Presiden. Mereka berusaha mengejar dan memperjuangkannya agar semua keinginannya terwujud.

Bila seseorang yang bercita-cita menjadi PNS, maka cita-cita selanjutnya mendapatkan jabatan eselon 4, eselon 3, eselon 2 bahkan eselon 1. Semua keinginan itu, merupakan hal yang wajar dimiliki oleh orang yang berpropesi sebagai PNS.

Begitu pula bila berada dalam bidang politik, mereka bercita-cita jadi anggota DPR, menteri bahkan Presiden dengan tekad dalam hatinya untuk memakmurkan bangsa dan negara. Merasa yakin bahwa hanya dialah yang bisa membuat bangsanya sejahtera dan makmur.

Namun semua cita-cita di atas tidaklah abadi dan bahkan akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri, bila tidak dilandasi dengan cita-cita yang agung, cita cita tertinggi yang seharusnya dikejar oleh setiap manusia. Cita-cita yang dasyat itu adalah berada dalam kebahagiaan yang tak akan pernah pudar yaitu menjadi salah seorang penghuni surga di kehidupan abadi nanti.

Bila seseorang berjuang dan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa dilandasi cita-cita agung di atas, maka untuk mendapatkannya mereka umumnya cenderung dengan menghalalkan berbagai macam cara, baik itu melalui suap, menginjak bawahan, menjilat atasan, mensikut teman sejawat serta banyak lagi tindakan-tindakan lain yang pada dasarnya akan merugikan mereka sendiri.

Dan bila mereka sudah mencapai kedudukannya, mereka akan cenderung menghina profesi yang hina dimatanya. Seorang pengusaha yang sukses akan menghina seorang pedagang asongan, seorang pejabat akan menghina seorang pemulung, dan banyak lagi tindakan lain yang semakin membuat sombong dengan apa yang mereka miliki.

Begitu juga sebaliknya seorang yang masih belum mencapai cita-citanya tanpa dilandasi dengan cita-cita masuk surga-Nya, maka mereka yang masih berada di bawah akan cenderung silau dengan kedudukan orang yang berada di atasnya. Seorang pegawai rendahan akan begitu mengagungkan kedudukan seorang presiden, seorang pesuruh akan begitu gentar melihat kedudukan seorang anggota DPR dan seorang staf akan terkagum-kagum terhadap jabatan tertinggi di tempat kerjanya. Hal ini diakibatkan karena hanya mengejar t cita-cita yang ada di dunia yang fana ini..

Bila seseorang tidak memiliki cita-cita mendapatkan kebahagiaan abadi nanti, maka pada saat jabatannya hilang. Orang tersebut akan cenderung merasakan hidupnya telah berakhir dan muncul kekecewaan dihatinya. Banyak diantara mereka yang akhirnya stroke dan stress berat akan kondisi itu. Bahkan adapula orang yang menderita akibat cita-cita tertingginya di dunia ini. Sebagaimana yang pernah tercatat dalam sejarah mengenai penderitaan para penguasa sebuah negeri besar, seperti Hitler, Firaun, Korun, Marcos dan banyak lagi para pemimpin sebuah negara lainnya yang dihujat dan tercatat sebagai orang yang dibenci oleh rakyatnya sebagai akibat dari cita-cita yang dimilikinya tersebut.

Namun bila kita melihat cita-cita yang jauh lebih tinggi, yaitu bercita-cita mendapatkan surga-Nya. maka dia akan nyaman dengan berbagai macam profesi yang dijalani yang sesuai dengan kemampuan dan keunikan yang dimilikinya. Baik itu sebagai pemulung, pengusaha, staf, anggota DPR bahkan presiden. Dan diantara mereka tidak akan ada saling menghina dan saling mengagungkan. Karena cita-cita mereka yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian.

Seorang pemulung tidak harus menjadi presiden untuk mendapatkan cita-cita termulianya. Begitu pula seorang presiden tidak mesti jadi seorang pemulung untuk mencapai surga-Nya. Seseorang dapat mencapai cita-cita tertinggi tersebut dengan berbagai profesi yang sesuai dengan anugrah kemampuan yang mereka miliki. Mereka yang berbeda profesi akan saling menghormati, menyayangi serta saling menasehati untuk mencapai kebaikan bersama. Mereka akan melihat bahwa hidup di dunia ini sebagai tempat untuk bercocok tanam yang akan didapatkan hasilnya di kehidupan abadi nanti.

Mereka akan melakukan pekerjaannya dengan selalu waspada jangan sampai setiap yang dilakukannya malah menjauhkan mereka dari cita-cita tertingginya. Mereka akan berusaha melakukan yang terbaik yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Sesuatu yang tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang telah diturunkan oleh Sang Maha Pemilik Kebahagiaan Abadi, yaitu melalui aturan yang ada dalam Kitab Suci-Nya dan apa yang telah dicontohkan oleh perilaku para Nabi-Nya.

”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam syurga dan keni’matan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): ”Makanlah dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli’ (QS. Ath Thuur 52:17-20)

”Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas (piala), cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir” (QS. Al-Waqi’ah 56:15-18)

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi merekasyurga ’Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam syurga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah, (QS. Al kahfi 18: 30-31)

Di surga akan ada seseorang penyeru yang berkata. ”Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sehat wal afiat dan tidak menderita sakit selama-lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama-lamanya. Sekarang tibalah saat bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama0lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang-senang dan tidak sengsara selama-lamanya. (HR. Muslim)

”Penghuni surga akan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka, kemudian penyeru berdiri di antara mereka dan berkata, Wahai penghuni surga, sekarang tidak ada lagi kematian. Wahai penghuni neraka, sekarang tidak ada lagi kematian. Semuanya kekal abadi di tempat masing-masing.” (HR Al-bukhori-Muslim)
Salam, Uung Gantira

Selasa, 07 Oktober 2008

"Maafkan Aku Istriku"


Setelah aku banyak membaca sejarah, cerita, kisah, pola pikir, perasaan, hati, surat kabar, serta semua yang berhubungan dengan kaumku dan kaummu. Ternyata jauh lebih banyak kaummu yang tersakiti oleh kaumku dibandingkan kaumku yang tersakiti oleh kaummu.

Setelah aku banyak membaca sejarah sebelum agamaku datang, begitu banyak kaummu yang dilecehkan oleh kaumku. Bila kaummu baru melahirkan kaummu, maka dengan entengnya kaumku mengubur kaummu. Kaumku saat itu merasa malu dengan hadirnya kaummu di antara kaumku, padahal karena jasa kaummulah kaumku bisa terlahir di dunia ini.
Setelah aku banyak membaca cerita kaumku yang dilahirkan oleh kaummu, begitu banyak kaumku yang menghianati kaummu. Padahal awalnya kaummu dengan rasa sayang yang luar biasa membesarkan kaumku. Kaummu dengan sayangnya menyusui kaumku yang masih bayi yang hanya baru bisa menangis. Namun saat kaumku telah menginjak besar dan mandiri, kaumku dengan sombongnya melupakan jasa-jasa kaummu.

Setelah aku banyak membaca kisah cinta antara kaumku dan kaummu, begitu banyak hati kaummu yang disakiti oleh kaumku. Mula-mula kaumku dengan perjuangan yang begitu hebat berusaha mendapatkan hati kaummu yang terus menerus menolak hati kaumku. Namun saat hati kaummu luluh dan mencintai hati kaumku, maka dengan seenaknya kaumku meninggalkan kaummu. Sehingga akhirnya banyak dari kaummu yang memutuskan untuk sendiri seumur hidupnya karena rasa sakit yang luar biasa akibat dari perbuatan kaumku.

Setelah aku banyak membaca pola pikir kaumku dan kaummu, begitu banyak kaummu yang memilih kaumku semata-mata hanya karena cinta kaummu pada kaumku. Padahal kaumku tidaklah terlalu tampan, tidaklah terlalu pintar, tidaklah terlalu kaya, tidaklah terlalu hebat. Kaummu memilih kaumku hanya karena rayuan gombal dari kaumku yang pandai mengobral janji-janji kosong. Namun saat didalam badan kaummu berisi sesuatu yang berasal dari kaumku. Kaumku dengan pola pikirnya yang so’ rasional begitu mudahnya dia lari dari tanggung jawab yang tidak menguntungkan ke so’ rasionalannya, sehingga kaummu menahan rasa malu yang luar biasa sendirian dihadapan orang-orang yang senantiasa menghina kaummu.
Setelah aku banyak membaca perasaan kaumku saat belum dikaruniai darah dagingnya, kaumku dengan enaknya menyalahkan kaummu. Kaumku tanpa ijin dari kaummu menikah lagi untuk menenangkan perasaan kaumku, padahal saat itupun perasaan kaummu benar-benar menderita bahkan bisa jadi kekurangan itu berada pada kaumku. Namun kaumku dengan gengsi yang sangat tinggi tidak mau mengakui kekurangan yang bisa saja ada pada diri kaumku.
Setelah aku banyak membaca hati kaumku yang telah mendapatkan dari hasil perjuanganmu yang menahan rasa sakit yang luar biasa disaat-saat darah daging kaumku lahir dari perut kaummu. Dengan mudahnya sebagian besar cinta hati kaumku beralih ke darah daging kaumku sehingga hati kaummu mulai terabaikan oleh kaumku, padahal kaummulah yang jauh lebih berjasa dalam melahirkan hati kebahagiaan kaumku.

Setelah aku banyak membaca surat kabar mengenai kaumku dan kaummu, begitu banyak kaummu yang teraniaya oleh kaumku. Kaummu dicaci maki, ditampar, ditendang, bahkan banyak dari kaummu yang dibunuh oleh kaumku, padahal pengorbanan yang telah kaummu lakukan pada kaumku begitu besar. Namun kaumku dengan so’ berkuasanya memaparkan pengorbanannya yang tidak seberapa banyak dibanding pengorbanan kaummu pada kaumku.
Setelah aku banyak membaca kaumku yang menikahi banyak kaummu, aku melihat mereka merasa diri suci mengikuti sunnah nabiku. Padahal nabiku menikahi kaummu semata-mata hanya untuk menolong kaummu yang sudah tua, menderita dan sengsara yang tidak mungkin kaumku mau menikahinya. Kaumku saat ini banyak menikahi lebih dari satu dari kaummu yang semata-mata hanya karena kecantikan dari kaummu.
Setelah aku banyak membaca masa di kehidupan nanti bahwa kaummu di neraka nampak lebih banyak dibandingkan kaumku. Kaumku dengan sombongnya menganggap diri lebih suci dibandingkan kaummu. Padahal bisa saja di surgapun kaummu jauh lebih banyak dibandingkan kaumku karena berdasarkan logikaku, saat ini kaummu yang hidup didunia jauh lebih banyak dibandingkan kaumku.

Setelah aku banyak membaca agamaku mengenai kaummu, ternyata kedudukanmu begitu dimuliakan oleh agamaku. Agamaku mengharuskan kaumku menghormati dan menyayangi kaummu yang telah melahirkan kaumku dan kaummu. Agamaku menempatkan kaummu sebagai tiang negara kaumku dan kaummu. Do’a dari kaummu sangat didengar oleh Tuhanku saat kaummu mendoakan kaumku dan kaummu yang telah lahir dari kaummu. Kaummu diakhirat kelak bisa menarik kaumku dari dalam surga ke dalam neraka dan bisa juga menarik kaumku dari dalam neraka ke dalam surga. Ternyata kaummu begitu mulianya di pandangan agamaku.

Setelah aku banyak merenungi semua mengenai kaumku dan kaummu. Aku semakin merasa malu atas tindakan so’ jago, so’ berwibawa, so’ berjasa, so’ pintar, so’ suci, so’ pahlawan dan so’so’ lainnya dari kaumku terhadap kaummu. Sebagai rasa penebus maluku pada kaummu, aku berjanji akan senantiasa membimbing, menyayangi, mencintai, melindungi, menghormati, dan mencurahkan cintaku padamu istriku.

Maafkan aku istriku jika pengorbananku pada dirimu masih tetap jauh di bawah pengorbananmu pada diriku. Namun aku akan terus berusaha sepenuh hatiku agar pengorbananku setara dengan pengorbananmu. Aku sungguh sangat mencintaimu istriku.

Salam, Uung Gantira

Senin, 06 Oktober 2008

Dirimu Adalah Belahan Jiwaku Sayangku


Pada awal pertemuan dengan dirimu. Rasa cinta yang kurasakan saat itu tidaklah semanis yang kurasakan saat ini. Dulu yang kurasakan saat berdekatan denganmu adalah detakan jantung yang membuat darah ini mendidih. Ingin rasanya tangan ini meremas tanganmu, badan ini memeluk tubuhmu dan bibir ini mencium keningmu. Namun yang kurasakan dalam hati kecilku rasa ketakutan dan keberanian yang saling tarik menarik untuk mendekati dan sekaligus menjauhi keinginan itu.

Setelah ikatan suci disahkan, yang kurasakan saat berdekatan denganmu adalah kesejukan yang meresapi seluruh jiwa dan ragaku. Saat meremas tanganmu, tanganku terasa memegang intan permata yang tak ada duanya di alam semesta ini. Saat memeluk tubuhmu, jiwaku terasa menyatu dengan jiwamu menjadi suatu jiwa yang utuh dan sempurna. Saat mencium keningmu, bibirku terasa mencicipi air talaga surga yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Hati kecilku merasakan kebahagiaan surga dunia yang menggetarkan setiap sel ragaku.

Saat aku berada di tempat yang jauh dan merasakan kerinduan pada dirimu, maka aku langsung menelponmu. Dan pada saat yang bersamaan dirimupun merasakan yang sama sehingga kerinduan itu menyatu menjadi sebuah keutuhan yang sempurna. Ini kurasakan bahwa ada suatu ikatan batin yang menyatu antara kita. Aku merasakan sebuah komunikasi getaran jiwa di antara kita.

Saat aku dan dirimu bersama kembali, yang kurasakan adalah kedamaian yang meresap dalam seluruh jiwaku. Semua rasa resah dan gelisah terus tercurahkan dengan bebasnya pada dirimu. Saat dirimu menangis untuk mencurahkan rasa sedihmu, diriku merasa bagai seorang kesatria yang selalu siap menghiburmu sehingga kesedihanmupun berubah menjadi canda yang menghangatkan dunia kita.

Begitu pula pada saat diriku merasakan uneg-uneg yang luar biasa pada lingkungan kerjaku. Akupun mencurahkannya pada dirimu sehingga yang kurasakan adalah perubahan dari hati yang gelisah menjadi hati yang damai. Itulah nikmatnya berada disisimu belahan jiwaku.

Salam, Uung Gantira

Belahan Jiwa


Belahan jiwa bukanlah pasangan hidup yang mempunyai kesamaan dalam segala hal. Namun belahan jiwa adalah sesuatu yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Sehingga kekurangan di satu pihak akan terisi oleh kelebihan di pihak yang lain begitu pula sebaliknya.

Belahan jiwa dapat diandaikan bagai hati di belah dua. Sesuatu yang kelihatan sama tapi tidak sama karena yang satu ada disebelah kiri dan lainnya ada disebelah kanan. Bila keduanya disatukan jadilah hati yang sempurna.

Jadi belahan jiwa bukanlah seperti belahan hati yang sama sama sebelah kiri dan bukan pula yang sama-sama sebelah kanan. Karena bila keduanya disatukan akan tetap menjadi jiwa yang hanya punya sebelah tidak menjadi sesuatu yang utuh.

Bila seseorang sudah merasa sebagai belahan jiwa bagi pasangan hidupnya, maka dia akan merasakan apa yang bagian lain rasakan walaupun mereka berada pada jarak yang berjauhan. Mereka akan berkomunikasi dengan getaran jiwa masing-masing tanpa dapat dimengerti kejadian prosesnya.

Pasangan jiwa yang utuh bagaikan pasangan suami istri yang menyatu. Kebahagiaan yang dirasakan suaminya pada saat istrinya merasakan bahagia begitu pula sebaliknya. Karena bila yang satu membuat pasangannya menderita pada dasarnya dia telah membuat dirinya sendiri menderita. Sebagaimana tangan kita apabila yang sebelah kiri terluka maka tangan yang kanan akan merasakan penderitaan pula.

Oleh karena itu, perhiasan yang paling istimewa di dunia ini bagi seorang suami adalah mempunyai seorang istri yang menyenangkan batinnya, begitu pula sebaliknya. Jadi pasangan hidup yang diharapkan adalah pasangan yang dapat membuat kenyaman hatinya saat di rumah dan juga saat di luar rumah. Secara fitrahnya bila seseorang telah berkeluarga maka imannya akan sempurna, kebahagiaannya akan berlipat dan kedamaiannya akan meresap.

Kita semua tahu bahwa manusia diciptakan di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada Sang Maha Pencipta. Ibadah manusia kepada-Nya dapat dalam berbagai bentuk, salah satu diantaranya adalah saling menyempurnakan pasangan hidupnya. Bila itu tidak dilakukan maka pada dasarnya seseorang telah menyalahi aturan kehidupan yang sebenarnya.

Bila terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan serta membuat keduanya bertengkar secara terus menerus, berarti disini ada sesuatu yang salah. Karena pertengkaran itu bukanlah sebagai tujuan hidup suatu pernikahan. Yang terbaik bagi keduanya adalah sama-sama berintropeksi apa yang seharusnya mereka lakukan untuk kesempurnaan bersama. Bukan menuntut kesempurnaan dari pasangannya, karena hal itu tidak mungkin tercapai tanpa penyatuan keduanya secara utuh.

Pertengkaran umumnya disebabkan oleh tuntutan dari masing-masing yang mengharuskan pasangannya seperti dirinya. Padahal belahan jiwa adalah sesuatu yang sama namun tidak sama. Bila semuanya sama maka tak perlu lagi adanya penyatuan jiwa. Pasangan hidup yang sejati akan berusaha saling melengkapi untuk mencapai kesempurnaan hidupnya.

Pada saat kita menuntut hak pada pasangan kita maka pada saat yang bersamaan kitapun dituntut untuk melakukan kewajiban. Namun bila cinta dan kasih sayang sudah meresap pada keduanya, maka hak dan kewajiban bagaikan sebuah kehidupan yang menghiasi keindahan dalam berkeluarga.

Jadi yang namanya belahan jiwa bukanlah segala sesuatu yang serba sama tapi sesuatu yang berbeda yang saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup. Bagaimanapun juga belahan jiwa akan selalu saling mengisi dan terus memberikan yang terbaik buat pasangannya masing-masing.

Salam, Uung Gantira