Minggu, 14 September 2008

KALENDER SKOP DIKLATPIM IV ANGKATAN X

Kalenderskop Diklatpim IV Angkatan X
43 Hari Meningkatkan Kompetensi


Diklapim IV angkatan X layak disebut angkatan Luar Biasa. Selain paling heboh dan kompak, juga paling gokil dan sensasional dibandingkan angkatan sebelumnya.

Ibarat cerita film nasional bertema “10 hari mencari cinta”, dengan bintang utama Nirina Jubir. Perjalanan peserta Diklatpim IV angkatan X pun layak diangkat ceritanya ke layar lebar atau ya setidaknya ke layar plastik. Dengan jumlah 40 orang dari beragam daerah, satuan kerja, pangkat dan golongan berkumpul di BDA Sukamandi selama 43 hari untuk di-up grade kompetensinya. Nah, penasaran kan?….mari kita simak kronologis pilihan selama 43 hari mencari ilmu para peserta Diklatpim IV Angkatan X.

Hari Ke-1, Pembukaan
Peserta Diklatpim masih malu-malu dan terkesan jaga wibawa. Secara aklamasi, gelar pertama pun disematkan ke Basri sebagai Heber. Beberapa orang peserta mulai kasak-kusuk mencari figur ketua “suku” dan menggolkan hari Sabtu libur. Isu “belum adanya peta jabatan di DKP” menjadi masalah hangat yang ramai diperdebatkan peserta. Acara memakai jas pun batal, mengusung semangat kebersamaan, peserta pun menggunakan pakaian putih-hitam ibarat “sales”.

Hari Ke-2, KIAT
Para widyaiswara berupaya menyatukan peserta Diklatpim. Selirik lagu KIAT pun mengajak peserta Diklatpim untuk melepaskan atribut dan status yang melekat (tidak termasuk status suami/istri). Kelompok merah pun menjadi kelompok ter-jablay dan terpanjang setelah berlomba jaring “jabatan”, peras “keringat”, bola “liar”, kelereng “manja”, dan “bom” volly. Saudara Kamdani “Sentani” dengan misi “masuk 40, keluar 40” pun terpilih menjadi ketua suku. Kebekuan peserta Diklatpim cair, dan peserta mulai terlihat sifat aslinya. Libur perdana pun banyak digunakan peserta untuk periksa ke ”Grogol”, dan ”RM” untuk peserta luar kota

Hari Ke-5, Belajar
Bakat-bakat tersembunyi peserta pun mulai tumbuh ibarat jamur di musim hutan. Ahli filosofi, karena pendapatnya selalu diawali dengan filosofi. Ahli teori, karena pendapatnya selalu diawali dengan beragam teori anta-branta. Pebisnis, karena ditengah kesibukannya sebagai PNS mampu memanfaatkan peluang yang ada untuk memperoleh tambahan pendapatan dengan memanfaatkan fasilitas kantor. Ahli pijat, karena selama Diklatpim berhasil memijam sebagian peserta dan widyaiswara. Juga ahli negosiator, karena selama Diklat telah teruji mampu memberikan jalan tengah mensinkronkan kepentingan panitia dan peserta. Para ahli inilah yang selalu memberikan ”warna warni” Diklatpim. Sindrom absen pun mulai menghinggapi para peserta.

Hari Ke-10, Belajar Lagi
Angkatan X kembali menyematkan gelar bangsawan kepada beberapa peserta, seperti: Nasrul ”bansos” Efendi, Harimurti ”biawak” Sukirno, Usni ”putri” Arie, Joni ”protes” Haryadi, Kosingin ”lampiran”, Harumi ”mateng” Isnaeni, ” dan ”raden ayu” Gustiwirman. Penyakit kantuk pun mulai menghinggapi sebagian peserta karena materi dari pagi buta sampai malam hari. Tidak lupa, peserta pun secara aklamasi mengangkat 3 dewan syuro, yaitu mbah Sudirdjo, mbah Maulana dan mbak Ganef. Jendela dunia pun berhasil dibuka Saudara Harimukti ”biawak” dengan membuka jaringan internet di BDA Sukamandi.

Hari Ke-29, OL
Dibawa komando mbah Maulana, pelaksanaan OL di Kabupaten Serang berjalan lancar. Diagnosa ”pohon masalah” dan rekomendasi berhasil menghipnotis jajaran pejabat Kabupaten Serang, meskipun pengumpulan data dilakukan hanya setegukan kopi saja. Tidak terbayang kan kalau kegiatan pengumpulan data oleh angkatan X dilakukan selama 1 bulan dan menginap di hotel berbintang, pasti pembangunan kelautan dan perikanan menjadi mainstream pembangunan ekonomi di Kabupaten Serang.

Hari Ke-37, KKP
Peserta mulai terbuai dengan urusan penyusunan KKP. Di kamar, di asrama, di kelas dan di rumah peserta selalu bawa laptop. Beberapa peserta yang hilang file KKP-nya mulai panik. Meskipun beberapa peserta “makan tape dan tape-nya dimakan burung”, tapi akhirnya penyusunan KKP, seminar KKP, KKK dan KKA berjalan lancar. Kembali terobosan dihasilkan angkatan X, yaitu presentasi KKA dilaksanakan dalam bahasa Inggris serta KKA dibuat dalam 2 bahasa.

Hari Ke-39, Malam Keakraban
Meskipun dilakukan secara mendadak, acara malam keakraban pun berjalan sukses dan dihadiri oleh sebagian besar widyaiswara. Para peserta mulai unjuk gigi kemampuan menyanyi. Dibawa duo MC, “Raden Ayu” Gustiwirman dan Purwaningsih “rojali” semua peserta diajak menanyi dan berjoged bersama. Semua kesumpekan karena sepekan menyusun KKP hilang.

Hari Ke-41 dan Ke-42, Bakar Ikan
Mengisi masa karantina sebelum ditutup, kembali angkatan X berinovasi. Menyelenggarakan kegiatan bakar ikan terberat sebagai rekor baru pelaksanaan Diklatpim. Mengulangi hari sebelumnya, hari ke-42, peserta kembali menyelenggarakan bakar ikan. Hari ke-41 ikan tawar dan hari ke-42 ikan laut, katanya sih biar adil. Kegiatan bakar ikan pun semakin semarak karena diiringi lagu yang dibawakan para artis lokal Sukamandi, seperti Purwaningsih ”rojali”, Nasrul “bansos” Efendi dan Joni “protes” Haryadi. Menjelang jam bergerak ke angka 12 malam, peserta Diklatpim pun yang telah berbasah-basah ria secara berangsur-angsur mulai kembali ke asrama untuk melanjutkan aktifitas lainnya.

Hari Ke-43, Penutupan
HariKebersamaan, kekompakan, profesionalisme dan rasa optimis selama ini selalu ditunjukkan peserta Diklatpim. Jadi yakinlah pak Ketua kalau misinya berhasil dan siap dipilih kembali untuk Diklatpim selanjutnya ”masuk 40 orang dan keluar 40 orang”, kecuali ada peserta Diklatpim yang memang masih betah tinggal di Sukamandi menunggu dibukannya kembali RM? Nah siapa loh..........

By. Kusdiantoro

1 komentar:

PIM410 mengatakan...

Canggih benar tulisannya. Terusin ya Mas... Sukses Selalu untuk anda.

Usni Arie