Temen-temen PIM410 pasti penasaran kan dengan tingkah pria itu, apa sih sebenarnya yang akan dilakukan oleh Mr. X tersebut, mari kita lanjutkan cerita yang sangat menarik ini. Jangan lupa, sebelum meneruskan, cobalah anda merancang cerita lain yang lebih menarik, agar temen-temen lain bisa mengenang masa indah di Sukamandi !
Sampai di kamar, pria itu langsung membuka pintu lemari. Sebuah benda yang selalu dibawa kemana saja dia pergi segera dijamahnya. Benda itu ba senjata pemikat baginya, seperti golok Si Jampang dari Betawi. Dia berdiri di depan cermin, dan memandangi dirinya, mulai dari kepala hingga ujung kaki. Senjata itu disentuhkan ke rambutnya berkali-kali hingga rambutnya rapi.
Ternyata aku ganteng juga, bisiknya dalam hati. Selain ganteng aku juga awet muda. Umurku yang sudah berkepala empat, nampak seperti pemuda berumur 17 tahun. Wajar saja kalau banyak cewek yang tergoda. Kini di sana sudah ada tiga cewek cantik. Dan aku yakin ketiga cewek itu akan tertarik denganku. Siapa dulu dong, Mr X. He.. heh... Di tersenyum sendiri. Cewek-cewek !
Tapi, temen-temen yang lain juga banyak yang ganteng, bisiknya lagi, lebih ganteng dariku. Tapi, aku yakin seratus persen, pasti ketiga cewek itu akan tertarik denganku. Aku ingin tunjukan kepada temen-temen, bahwa akulah nantinya yang akan mendapatkannya. Setelah aku mendapatkan salah satu dari ketiga cewek itu, temen-temen akan tahu siapa aku sebenarnya. Mr. X, he... heh... Kalau aku tidak berhasil, apa kata dunia.....
Tapi, bagaimana caranya ya...agar aku bisa berhasil mendapat cewek itu. Hah... aku punya ide, dia tersenyum sendiri. Penampilanku, dia berjingkrak kegirangan. Oh... ya penampilanku. Penampilanku harus dirubah agar lebih menarik. Bajuku harus diganti. Tapi, pakai apa ya... ? Dia berpikir sejenak. Setelah itu, dia melirik, menatap beberapa baju yang tergantung dalam lemari.
Baju yang pertama kali menarik hatinya adalah batik, baju yang selalu dipakainya pada Hari Jum’at selama Diklatpim. Batik, bisiknya. Ya.. pakai batik, bisiknya lagi. Tapi pantas nggak ya ? tanyanya dalam hati. Kalau aku pakai batik, penampilannku pasti beda, tidak seperti temen-temen. Dia kembali berpikir sejenak. Tapi, kalau aku pakai batik, aku seperti mau ke ondangan, padahal aku mau pergi bakar ikan. Nggak ah... nggak pantas, nanti aku bisa diketawain temen-temen.
Oh... ya, pakai baju koko, dia kembali berjingkrak, karena mendapatkan ide baru. Ya.. pakai baju koko. Lalu kebawahnya pake sarung, sarung asli Samarinda. Dengan begitu aku seperti ustad. Cewek-cewek itu akan menduga aku sebagai ustad yang rajin ke mesjid. Bukankah cewek-cewek akan senang dengan orang yang rajin ke mesjid. Dengan ide itu, segera memakai baju itu. Tapi setelah dipakai dan bercermin, dia kecewa. Ternyata nggak pantas. Masa mau pergi bakar ikan, pakai koko. Nggak... ah. Lagi pula, kalau pake sarung, aku seperti anak yang baru disunat. Nggak.. ah, nggak jadi, bisiknya.
Setelah membuka baju koko, dia meletakan baju itu pada tempatnya. Beberapa pakaian lain menjadi pusat perhatiannya. Diantaranya, ada baju seragam DKP, ada kemeja putih lengkap dengan dasinya, ada jas lengkap dengan celananya, ada kaos lengkap dengan jaketnya, ada juga kemeja lengan pendek yang baru dibeli beberapa hari lalu di Sukamandi. Dia menatap baju-baju itu. Nampaknya dia kebingungan sendiri.
(Nah... seru kan ceritanya. Temen-temen pasti penasaran. Tapi, cerita ini tidak akan diteruskan sekarang. Tentu saja tujuannya agar temen-temen rajin mengunjung website kita ini. Oh.. ya lakonya lagi bingung tuh, mau pake baju apa dia. Cobalah temen-temen bantu agar ditemukan caranya. Jangan lupa masuk ke Analisa Pohon Alternatif, agar dapet solusi terbaik... selamat bekerja !)
By. U. Arie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar