Minggu, 14 September 2008

MALAM KEAKRABAN, SIAPA SANGKA

Siapa sangka, kalau diantara ribuan malam sepanjang hidup, atau selama 43 hari PIM410, ada satu malam yang sangat istimewa, sangat berkesan, dan penuh kenangan. Itulah malam keakraban. Malam dimana bertemunya seluruh peserta PIM410 dengan Panitia dan Widyaiswara.

Siapa sangka, kalau malam keakraban yang tak pernah tertuang dalam agenda, hanya dengan rencana spontan dan penuh dengan dinamika, mepet waktu karena menjelang Bulan Ramadhan, mepet dana karena hampir habis, bisa terwujud dengan sukses. Itu berkat kebersamaan PIM410.

Siapa sangka, kalau alat musik (drum, gitar, bass, akustik dan organ) yang biasanya nongkrong di ruang rekreasi, bakal berpindah dalam waktu yang singkat ke ruang makan, hingga menjadi alat bantu dalam malam keakraban. Itu juga kekompakan yang ditunjukan oleh PIM410.

Siapa sangka, kalau Gusti Ayu (sory Mas Gustiawirman) yang biasa melawak di kelas dan Mba Ipung (sory Mba Purwaningsih) yang biasanya menjadi tukang pijit keliling, ternyata keduanya mampu menjadi pembawa acara (MC) dengan baik. Itulah salah satu potensi yang terpendam dari PIM410.

Siapa sangka, kalau Dewan Suro I (maaf Pak Dirjo) yang biasanya lebih banyak diam dengan wibawanya dan Dewan Suro II (maaf Pak Maulana) yang konon telah sukses dalam Observasi Lapangan (OL) ternyata mampu menjadi pelawak dan mengundang tawa. Itulah kelebihan keduanya.

Siapa sangka, kalau malam keakraban akan dihadiri oleh hampir semua Widyaiswara (WI) dan Panitia. Padahal pada malam keakraban Diklatpim angkatan sebelumnya hanya dihadiri oleh satu atau dua orang WI dan Panitia. Itulah dewi fortuna bagi PIM410. Itu juga yang menjadikan malam keakraban sangat meriah.

Siapa sangka, kalau Pak Untung Widodo bakal menjadi aktor terbaik pada malam itu, karena telah menjadi pengiring lantunan lagu-lagu dari Pak Yusuf Sugilar, Panitia serta peserta PIM410 hingga menjadi meriah. Itulah kepiawaian beliau selama ini dalam memacu PIM410. Terima kasih, You are our hero.

Siapa sangka, kalau Mas Ganef yang konon selalu teguh dengan wibawanya (sory Mas, itulah pangdanganku) mampu melantunkan lagu angin malam (maaf kalau judul itu salah) dengan merdu, padahal tanpa persiapan sedikitpun. Itulah potensi yang terpendam darinya. Halo Mas, nanti rekaman.. ya.

Siapa sangka, kalau Bang Nasrul yang biasanya lantang bicara soal Bansos, dan dengan gaya tangannya yang tak pernah henti turut bicara, ternyata mampu melantunkan lagu dengan merdu, lalu memaksa Bu Ati (Maaf ya.. Bu) turun ke arena. Itu pula potensi darinya. Eh.. Bang Nasrul ! Ada hati... ya ? He.. heh...

Siapa sangka, kalau Oom Basri yang konon punya staf cantik-cantik dan kini mendapat julukan Eber (sory Oom), diminta turun ke arena untuk bernyanyi, dan ternyata dia tidak mampu bernyanyi, tapi dia mampu bercerita dan mengundang tawa, hingga suasana bertambah meriah. Itulah dia, Oom Basri.... Met tugas lagi... ya. Jangan lupa, bagi-bagi.. ya stafnya.

Siapa sangka, kalau peserta lainpun (Pak Sofian, Pak Hery, Oom Erick dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) ternyata mampu unjuk kepiawaiannya menanyikan lagu-lagu daerah, berjoged dengan gaya masing-masing. Itulah spontanitas dari malam keakraban.

Siapa sangka, kalau malam keakraban, telah dijadikan ajang photo bersama. Masing-masing peserta berusaha mendekatkan diri dengan peserta lain, bersentuhan badan dan wajah. Tentu saja semua akan menjadi kenangan sepanjang hidup, dan sebagai pernyataan bahwa kita pernah bersama, bercanda, tertawa, menjalin kasih, sayang dan cinta.

Selamat berpisah kawan-kawan yang baik hati, selamat bertugas kembali. Semoga apa yang telah kita jalani akan menjadi pondasi dalam membangun masa depan. Ingat hidup ini masih panjang, masih banyak angan-angan, cita-cita dan harapan. Semoga kita bisa bertemu di PIM tiga..... Amin.

Sukses selalu buat kita (Usni Arie)

Tidak ada komentar: