Cerber bagian 1
Wah, pasti ikan bakarnya sudah matang nih, bisik seorang pria berbadan kurus dan berkumis dalam hati. Nikmat sekali rasanya kalau aku bisa memakannya. Apalagi sehabis buka tadi, aku hanya makan sedikit. Bosan juga dengan masakan ibu dapur. Mulanya sih memang enak. Aku sering makan banyak. Tapi lama-lama jadi nggak enak. Apa memang bumbunya yang dikurangi atau memang aku yang lagi stress. Tapi sudahlah, yang pasti aku ingin makan ikan bakar. Nikmaat.
Diapun bangkit dari kursi dan menutup laptop yang sejak tadi menemaninya. Tempat tidur yang penuh dengan beberapa tas besar, dan semrawutnya kamar tak dihiraukannya. Yang ada dalam otaknya, hanya ikan bakar yang menururutnya sangat lezat. Namun tiba-tiba dia mengerutkan alisnya dan diam sejenak. Tapi aku malu sekali, kembali pikirnya dalam. Masa maunya cuma makan saja, tapi nggak mau kerja.
Tapi masa temen-temen nggak ngerti sih dengan keadaanku, dia tersenyum sendiri. Aku yakin mereka tahu kalau aku habis membongkar KKP. Hampir seluruh waktuku habis untuk itu. Jadi wajarlah kalau rasa lelah masih lengket di badanku. Tapi kalau teman-teman nggak ngerti, gawat juga. Bisa-bisa aku kena sindir. Padahal aku paling nggak enak kalau disindir. Bagiku lebih baik ngomong langsung dari pada seperti itu.
Ah... terserahlah. Teman-teman mau ngomong apa, yang penting aku ingin makan ikan bakar dengan sambal kecap yang sudah disiapkan sama Bu Ati dan kawan-kawan. Tidak ada istilah tersinggung. Selanjutnya boleh juga dong aku lihat gadis cantik yang konon katanya mau dibawa sama Agustiawan. Lagi pula masa sih malam terakhir ini, aku harus tinggal dalam kamar, nggak luculah. Lalu apa kata dunia.....
Dengan berbekal keyakinan dan sedikit tebal muka, pria tersebut keluar. Setelah mengunci kamar, dia berjalan ke arah Gerbang Wisma Baronang. Sampai di mulut gerbang dia memandang ke arah timur. Asap yang bertiup kearahnya meyakinkan kalau ikan bakar itu sangat lezat. Ditambah lagi dengan lantunan lagu dangdut yang jarang didengar selama diklatpim. Meski yang nyangi bukan penyanyi top, dan speaker yang ngerebek, tak apalah. Yang penting bisa ngiringi aku makan ikan bakar. Ha.. hah........ Pasti siiiiip.
Akhirnya pria itu benar-benar melanjutkan langkahnya. Keinginan untuk makan ikan bakar mengalahkan segalanya, terutama rasa malunya. Sampai di dekat bara api, dia melihat beberapa orang temen yang sedang asyik makan, sambil sekali-kali menarik napas, mungkin karena kepedasan. Sedangkan di depannya beberapa ekor ikan sudah matang. Melihat itu, dia menelan ludah, seperti dia sedang merasakan sendiri.
Dalam keadaan seperti itu, dia langsung jongkok di samping temennya. Dia ingin segera menikmati ikan bakar itu. Rasa malu segera diusirnya jauh-jauh. Dan kebetulan, beberapa temannya mempersilahkan dirinya sambil menekan tubuhnya agar jongkok depan ikan-ikan bakar. Bahkan sambal kecappun seperti datang sendiri, seakan-akan temen-temen itu sangat baik padanya. Tentu saja dia sangat senang. Tak lama lagi keinginan hatinya akan terwujud. Tetapi dia tidak tahu kalau ada bahaya yang akan mengancamnya.
Nah, apa maksud kebaikan temen-temen itu, dan bahaya apa yang mengamcam pria itu. Penasaran kan ? Nantikan cerita berikutnya... Kuah Ikan Bakar, Enaaaak.... Bagian 2
By U. Arie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar