A. Kegagalan dan Kesuksesan Sementara
‘Kegagalan adalah sukses yang tertunda’, adalah suatu ungkapan yang sering dituliskan oleh banyak buku tentang peningkatan potensi diri. Ini artinya bahwa kita jangan sampai putus asa bila mengalami suatu kegagalan, karena dengan kegagalan tersebut kita akan mengetahui kelemahan dan kekurangan yang ada.Sebagaimana Tomas Alfa Edison, sebelum menemukan lampu listrik, dia telah mengalami kegagalan sebanyak 99 kali dan baru berhasil pada pada percobaan yang ke 100. Apakah percobaan yang 99 kali itu sia-sia? tentu tidak karena 99 bahan yang dia coba dapat digunakan sebagai bahan isolator atau untuk bahan lainnya. Jadi tetap apapun yang dia coba bermanfaat bagi penemuan selanjutnya.
Jadi pada saat kita gagal carilah hikmah di balik kegagalan tersebut. Banyak sekali orang yang berhasil karena sering mengalami kegagalan. Mereka terus memperbaiki dan mencari sebab-sebab kegagalan tersebut untuk mencapai kesuksesan yang lebih spektakuler.
Begitu pula pada saat kita berhasil. Jangan sampai terlena dan berpuas diri, karena ada suatu pepatah bahwa kesuksesan adalah awal dari suatu kegagalan. Pernyataan ini seperti kontradiktif tapi ini memang adanya. Kita sering membaca orang-orang yang awalnya sukses, namun tanpa disangka mereka tiba-tiba hancur lebur, sehingga tak tersisa lagi kebanggaan yang ada padanya.
Jadi pada saat kita mencapai kesuksesan maka tetaplah waspada dan terus meningkatkan kompetensi diri, jangan sampai terlena dan terbuai dengan kesuksesan yang ada. Karena bagaimanapun juga situasi sekitar kita akan terus berubah tanpa bisa kita hentikan.
b. Kegagalan dan Kesuksesan Sejati
Ada situasi dimana kita mendapatkan kegagalan atau kesuksesan yang sejati. Bila kita telah mendapatkan kesuksesan pada situasi itu, maka kita akan berada dalam kebahagiaan selama-lamanya tidak ada lagi perjuangan yang harus dilakukan. Begitu pula bila kita mengalami kegagalan, maka penderitaan dan putus asa sudah sewajarnya diterima karena tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya.
Situasi tersebut adalah pada saat kehidupan setelah kematian. Kita tinggal menunggu hasil amalan hidup kita selama di dunia ini. Apakah amalan kita menuju ke surga-Nya atau sebaliknya menuju keneraka-Nya. Situasi saat itu sungguh sangat mencekam dan penantian yang sangat menegangkan.
Jadi selama napas masih bersatu dengan tubuh kita, masih ada kesempatan untuk meningkatkan kebaikan dalam menuju kesuksesan sejati. Jangan sampai kita menyesal pada situasi yang tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri.
“Timbangan pada hari itu adalah kebenaran (keadilan). Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS Al-Araf 8-9).
Salam, Uung Gantira
http://sudutpandang2.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar